Fanatisme Dalam Rangka Pesta Demokrasi

Bahkan pada jalan pikiran yang nyamanpun mereka tak bisa nikmati, semua diarahkan pada tendensi like and dislike, padahal syarat mutlak demokrasi adalah imbal balik pikiran, bukan menyamaratakan jalan pikiran warga negara.

Pencerahan bersama dalam rangka menjadikan demokrasi sebagai jalan alternatif menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, mampet hanya karena fanatisme berlebih, sehingga sosmed yang seharusnya bisa sebagai media bertukar pikiran berubah menjadi medan perang "argumentum ad hominem" yaitu argumentasi yang diajukan menyerang personal bukan esensi persoalan.
Akhirnya muncullah golongan golongan paralogi yaitu golongan yang melakukan kesalahan berfikir namun tidak menyadari letak kekeliruannya dan akibatnya selalu menganggap dirinya benar sendiri, buta mata dan buta hati oleh karena egoisme sebagai pemenang, dan tidak siap tumbang.

Fakta sebenar apapun menjadi percuma dan sia sia, yang ujung ujungnya menjengkelkan pihak yang bermaksud memberi warning, jadi sebenarnya gak ada gunanya lagi mulut berbusa mengingatkan bahwa ada yang salah pada kebijakan publik yang tercipta karena salah mendeteksi sebab akibat, jadi baiknya kita masing masing berjuang sendiri saja, kamu disana aku disini, semoga pasca pesta demokrasi yang teraneh sepanjang sejarah ini kita baik baik saja saudaraku.

CopyRight: Bang Igor Amtenar

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Fanatisme Dalam Rangka Pesta Demokrasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel